Uncategorized

Sejarah Kesenian Ketoprak

Hasil gambar untuk kesenian ketoprak

Saat membaca periode itu, cikal bakal Seni Ketoprak dimulai pada 1887 melalui sejumlah pemuda desa yang bermain lesung sambil menari dan menyanyikan lagu dolanan, hingga penciptaan seni pertunjukan sederhana.

Kemudian pada rentang 1914, RM Wreksodiningrat yang merupakan seniman tari dan Wayang Wong di Keraton Surakarta menciptakan kethoprak kesenian.

Kelahiran seni ini terinspirasi oleh kondisi masyarakat saat itu yang benar-benar membutuhkan hiburan baru. Orang-orang bosan dengan hiburan lama yang mereka dengar hanya dari mulut ke mulut.

Di masa lalu, para pemain adalah laki-laki karena mereka mengadaptasi tema yang lebih diarahkan pada perang dan pengembaraan. Selanjutnya, seiring dengan meningkatnya variasi alur cerita, pemain wanita terlibat.

Pertunjukan kethoprak biasanya berlangsung sekitar 4-6 jam dengan dialog Jawa di Kromo inggil dan ngoko.

Bahasa digunakan sesuai dengan tingkatan, misalnya, raja dengan raja, raja dengan pelayan, dan pelayan atau orang biasa satu sama lain.

Umumnya dialog para pemain dipandu oleh skrip yang telah dibuat oleh sutradara.

Pada awalnya, tarian mendominasi pertunjukan dengan sedikit lebih banyak dialog. Selanjutnya, meskipun elemen tarian tetap dipertahankan, secara bertahap sebagian dialog ditambahkan.

Periode Perkembangan Kesenian Ketoprak

Awalnya, Ketoprak hanya dilakukan di lingkungan istana. Hanya pada rentang 1922 selama Kerajaan Mangkunegaran di Surakarta, seni ini mulai dinikmati oleh publik.

Pada waktu itu, pertunjukan masih sangat sederhana, disertai dengan mortar gamelan, alu, drum dan seruling.

Karena berbeda dengan Wayang Wong yang kisahnya cenderung terstandarisasi, kethoprak lebih populer di masyarakat karena ceritanya lebih banyak tentang kehidupan kerajaan.

Sehubungan dengan cerita itu juga, seiring dengan perkembangannya pada tahun 1942, seni ini pernah dilarang dipentaskan oleh pemerintah Jepang.

Larangan itu terkait dengan sajak dan alur cerita yang membuat pemerintah Jepang satir.

Dalam perjalanannya, seni kethoprak telah ditandai oleh banyak perubahan, terutama yang berkaitan dengan bentuk dan istilahnya.

Berikut ini adalah periode pengembangan Ketoprak dari waktu ke waktu:

Periode Gejog atau Lesung (1887-1908)

Periode awal kelahiran Ketoprak. Dimulai oleh beberapa pemuda yang bermain lesung sambil menari dan menyanyikan lagu-lagu atau lagu dolanan.

Dari sinilah mulai tercipta seni pertunjukan yang menghadirkan alur cerita sederhana seputar kehidupan di desa.

Periode Wreksadiningrat (1908-1925)

Masa kejayaan kethoprak di Istana Sultan di Surakarta. Adalah K.R.M.T.H Wreksadiningrat yang membawa seni ini ke istana.

Di istana seni ini beberapa bagian dipoles termasuk lesung yang berubah menjadi gamelan, penambahan seruling dan drum terbang.

Lagu dolanan digantikan oleh lagu macapat dan tengah. Semuanya cenderung disesuaikan dengan keagungan istana.

Periode Wrektasama (1925-1927)

Pada saat ini, ketoprak dipentaskan di luar tembok istana setelah periode sebelumnya berakhir tanpa ada yang melanjutkan. Pendirinya, Ki Wisangkara adalah mantan pemain Ketoprak Wreksadiningrat.

Perubahan pada periode ini adalah penambahan iringan musik seperti saron, gitar, biola, mandolin, kenong, kempul dan gong.

Meskipun melodinya masih sama, alur ceritanya menjadi lebih berani dengan menghadirkan kisah kronik atau kisah pembentukan kerajaan.

Krida Madya Utama Periode (1927-1930)

Berbeda dengan kelompok sebelumnya yang menetap di suatu daerah, kelompok ini secara rutin berkeliling melakukan kethoprak dari kota ke kota.

Sejak saat ini, seni ini menjadi sangat terkenal. Menyebar dan bersosialisasi di lingkungan pedesaan dan pesisir Jawa Tengah, termasuk di Yogyakarta.

Periode Gardanela (1930-1955)

Selama ini, kesenian Ketoprak kembali mengalami perubahan dan peningkatan.

Pengiring telah ditransformasikan menjadi seperangkat gamelan lengkap yang disetel dengan pelog dan pakaian yang digunakan tidak lagi sama dengan aslinya, yaitu kebesaran pakaian istana.

Sementara itu, beberapa alur cerita telah diadaptasi dari luar negeri seperti Sampek Engtay, Johar Manik.

Zaman Ketoprak Modern (1955-1958)

Salah satu keunikan pada periode ini adalah lahirnya kelompok kethoprak kecil di masing-masing daerah. Menariknya, setiap grup memiliki penggemar mereka sendiri.

Periode Gaya Baru (1958-1987)

Seiring perkembangannya dari waktu ke waktu, pada periode ini kompetisi kethoprak dimulai. Lomba ini diikuti dan dimeriahkan oleh beberapa kelompok dari Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.

Periode Sekarang

Selama 1980-1990-an, Ketoprak tumbuh menjadi permainan di ketoprak. Acara ini dikemas bahkan lebih bebas dalam hal cerita, dialog, dan karakter yang dimainkan.

Sedangkan untuk tahun 1995-an, seni ini menekankan sisi humor sehingga lahirlah istilah ketoprak humor.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*